the sociology of dating apps
bagaimana algoritma tinder mengubah cara kita mencari pasangan
Malam jumat, hujan rintik di luar jendela. Kita tiduran sambil memegang ponsel, layar menyala menerangi wajah. Jemari kita bergerak statis. Ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi. Dalam hitungan detik, kita baru saja menilai puluhan nyawa manusia. Pernahkah teman-teman menyadari betapa absurdnya hal ini? Kita hidup di era di mana mencari pasangan hidup terasa sama seperti memilih menu makanan di aplikasi ojek online. Cepat, tanpa ampun, dan anehnya, sangat adiktif. Kita merasa memegang kendali penuh atas kehidupan asmara kita. Toh, jari kita yang menentukan siapa yang layak mendapat swipe right. Tapi, benarkah demikian? Bagaimana jika selama ini bukan kita yang memilih, melainkan sebuah barisan kode matematika yang bekerja diam-diam di balik layar? Mari kita bongkar bersama apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan masyarakat kita sejak logo api berwarna merah muda itu muncul di ponsel kita.
Ratusan tahun lalu, urusan jodoh adalah perkara geografis dan komunal. Kita dijodohkan oleh tetangga, keluarga, atau mak comblang di desa. Pilihan kita terbatas pada siapa yang tinggal di radius beberapa kilometer. Lalu peradaban berevolusi. Ada biro jodoh di koran, kencan buta, hingga akhirnya internet datang membawa janji manis: dunia tanpa batas. Namun, aplikasi kencan mengubah janji romantis itu menjadi sebuah mesin permainan. Teman-teman mungkin pernah mendengar nama B.F. Skinner. Ia adalah psikolog abad ke-20 yang menciptakan eksperimen Skinner Box. Ia menaruh seekor tikus di dalam kotak dengan sebuah tuas. Jika tuas ditekan, kadang keluar makanan, kadang tidak. Ketidakpastian inilah yang membuat sang tikus terus menekan tuas sampai kelelahan. Dalam dunia psikologi, ini disebut variable ratio schedule. Tanpa kita sadari, aplikasi kencan mengadopsi prinsip ini secara sempurna. Setiap swipe adalah tarikan tuas. Kadang kita dapat match yang terasa seperti hadiah besar, namun seringnya tidak. Dopamin kita dipermainkan secara brutal, membuat kita terus menggeser layar meski mata sudah mengantuk.
Saat kita terus bermain tanpa sadar, ada sesuatu yang merekam tiap gerak-gerik kita. Ini bukan fiksi ilmiah, ini murni cara kerja algoritma. Pada masa awal kejayaannya, aplikasi kencan secara terbuka mengakui penggunaan sistem Elo score. Ini adalah sistem rating yang aslinya dipakai untuk mengukur kehebatan pemain catur. Di dunia kencan digital, sistem ini menilai tingkat desirability atau daya tarik kita. Jika orang dengan skor tinggi menyukai kita, skor kita naik. Jika kita sering ditolak, skor kita turun. Algoritma kemudian akan mencocokkan kita dengan orang-orang yang berada di kasta skor yang sama. Teman-teman mungkin berpikir, "Ah, saya cuma suka tipe orang yang wajahnya kalem, pakai kacamata, atau suka baca buku." Tapi pertanyaannya, apakah itu benar-benar preferensi murni kita? Ataukah layar ponsel kita hanya menyajikan orang-orang yang sudah disortir oleh kecerdasan buatan, berdasarkan data kelas sosial dan kebiasaan swipe kita di masa lalu? Kita merasa sedang memilih jodoh, padahal kita sedang dipajang dan dikelompokkan dalam etalase toko. Lalu, apa dampak sosiologis dari pengelompokan massal ini bagi nasib romansa kita?
Di sinilah sains dan sosiologi memberikan fakta yang cukup menampar realitas kita. Cara kerja algoritma ini memperkuat apa yang sosiolog sebut sebagai homophily—kecenderungan alamiah manusia untuk berkumpul dengan yang mirip dengannya. Alih-alih memperluas pergaulan, kecerdasan buatan justru mengurung kita dalam echo chamber asmara. Akibatnya, kita mengalami komodifikasi keintiman tingkat tinggi. Manusia direduksi menjadi sekadar foto liburan, zodiak, dan bio satu kalimat. Saat ada profil yang sedikit saja tidak pas, kita dengan mudah membuangnya ke kiri. Psikolog Barry Schwartz menyebut fenomena ini sebagai paradox of choice. Semakin banyak pilihan yang kita miliki, semakin sulit kita membuat keputusan, dan semakin tidak puas kita dengan pilihan yang akhirnya kita buat. Kita selalu dihantui bisikan, "Jangan-jangan gesekan berikutnya ada yang lebih baik?" Fakta ilmiah terbesarnya adalah ini: model bisnis aplikasi kencan tidak dirancang agar kita menemukan cinta sejati lalu segera menghapus aplikasinya. Secara ekonomi, itu adalah bunuh diri bisnis. Mereka dirancang untuk retensi. Mereka butuh kita tetap berstatus lajang, merasa sedikit kesepian, namun selalu punya harapan palsu bahwa belahan jiwa kita hanya berjarak satu swipe lagi.
Jika belakangan ini teman-teman merasa lelah, kehabisan energi emosional, atau mengalami dating fatigue, tolong tarik napas dalam-dalam. Mari berbaik hati pada diri sendiri. Kesalahan bukan pada diri kita yang dianggap kurang menarik, dan bukan juga karena kita tiba-tiba kehilangan pesona. Kita hanya sedang bermain di sebuah kasino digital yang mesinnya sudah diprogram agar bandar selalu menang. Mengetahui sosiologi di balik aplikasi kencan bukanlah alasan untuk menjadi sinis atau menyerah pada cinta. Sebaliknya, pengetahuan ini adalah senjata kita untuk merebut kembali kendali asmara kita. Silakan gunakan aplikasinya jika kita mau, tapi sadari sepenuhnya bahwa itu hanyalah satu dari sekian banyak cara, bukan penentu harga diri kita. Sesekali, cobalah angkat kepala kita dari layar ponsel. Mungkin, kejutan paling romantis justru terjadi ketika kita tidak sedang menekan tuas algoritma, melainkan saat kita tersenyum pada manusia sungguhan di kedai kopi dunia nyata.